lax dan analogi “Ngapel”

Sebelumnya Saya minta maaf ya.. kalau ada kata2 yang sekiranya nanti dapat menyinggung suatu kelompok, perorangan, atau agama tertentu..

Tulisan ini cuma perenungan saya dalam menyiasati diri saya sendiri yang masiih susah khusyuk dalam shalat atau sering ada rasa ‘malas’ menjalankan shalat.

Harapan saya sih semoga temen2 juga bisa ngasih masukan yang membangun buat aku nantinya, trus.. lebih Alhamdullilah lagi kalo saya bisa memberi masukan ke temen2 dengan adanya posting ini. Ok?!

Sebenernya beberapa waktu lalu aku udah mulai mencari2, esensi apa yang harus saya temukan dalam ‘pertemuan’ saya dengan Allah melalui media shalat itu.

Lalu akhirnya muncul pemikiran (he he..ini ala aku doank lho yah), biar waktu shalat Saya itu ’soul’nya lebih DAPET, aku meng-aplikasikan dengan dunia nyata.

Gini, Hmm… Jadi awal2nya aku menganggap Allah adalah sesuatu yang sangat aku sayangi. Paling gampang mengambil analogi paling dekat misalnya pacar, lah. Soalnya saat2 ini, rasanya orang lebih sayang kepada pacarnya yah daripada kepada Tuhannya sendiri.

Misalnya begini, waktu2 shalat ini aku ibaratkan saat aku bisa “ngapel” dengan yang aku kasihi sayangi atau apa istilahnya. Dalam hal ini karena membahas shalat, jadi shalat itu adalah sarana “ngapel” ku dengan Allah. Disaat itu kita bisa serasa berkomunikasi dengan-Nya.. Maksudnya hmm.. connected gitu deh.

Klo udah perasaan kita aja connected dengan-Nya (seperti biasanya kita menganggap diri kita konek banget ama pacar tuw). Pasti rasanya nyaman saat “pertemuan” itu. Saat2 ngapel akan kita nikmati, kita jalani aja tanpa berfikir. Tau2 acara ngapel selesai dan nggak pengen berakhir aja. Hayo, bener gaa?..

Nah, sekarang paradigma ketemu pacar itu tadi yang kita alihkan ke shalat. Seharusnya kita menyayangi Allah lebih besar daripada kita menyayangi pacar kita kan? Itu seharusnya.. Tapi dalam prakteknya memang sulit banget. Manusia kalo udah ketemu orang yang disayangi, wuih.. bisa lupa waktu. hehehe.

Rasakan dalam hati kita bagaimana kalau sewaktu ngapel, pasangan kita itu nggak fokus. Entah sibuk ama jam, lah. Lalu dia kepikiran pekerjaan terus lah, padahal udah seminggu berkutat dengan pekerjaan dan hanya waktu ngapel itu dia ada kesempatan ketemu kita lho..

Dia ada di depan kita. Tapi hanya fisiknya aja yang ada di hadapan. Pikirannya sudah entah kemana-mana. Resah dan gelisah nggak tenang (sambil nada2 kepengen pamitan pulang terus, hehe). Pasti kita ngedumel kan?

“Huh, ni anak niat gak sih ngapelin Gue?!! Masa gak bisa nyediain waktu sedikit aja buat aku, sehariiii aja di weekend. Sehari itu pun nggak cuma sehari. Paling beberapa jam!! Huh.. sebel..” (hehe, biasanya cewek nih yang kayak gini)

Nah begitu juga ketika kita melakukan shalat. Pernah nggak sewaktu shalat kita kepikiran: “Aduh, kerjaan yang tadi udah Gue upload belom ya?”, “Kalo if-nya begini, nanti looping terus, kalo pake while aja gimana?”

Hahaha.. kalo saya sih bukan pernah. Seriing bahkan. Tell me you’re not :P

Jadi sewaktu pertemuan kita yang hanya kurang dari 5 menit itu dengan Allah, yang sudah mengasihi kita nggak berbatas, jauh dari kasih sayang yang pacar kita berikan aja kita sempet2nya mengingat pekerjaan, hutang, dan urusan duniawi lannya selain mengingat-Nya.

Bagaimana perasaan si cewek tadi ketika cowo’nya resah dan gelisah sewaktu ngapel? Bagaimana sikap kita seharusnya dengan Tuhan yang sangat menyayangi kita di pertemuan yang sangat singkat dan seharusnya kita rindu-rindukan itu?

Ada baiknya kalo temen2 juga merenungkan hal diatas..

Kalo perenungan a-la saya tadi kurang “masuk” dan kurang “bekerja dengan baik” buat temen2, temukan perenungan a-la temen2 sendiri yang kalian anggap paling “masuk”. Agar acara “ngapel” kita, momment tempat kita bisa memberikan pujian dan sanjungan kepada-Nya dan Rasul-Nya bisa berfungsi dengan maksimal dan sampai ke tujuan utama.

Bukan bersikap jaim waktu ngapel karena ada camer lagi duduk2 didepan rumah. Hehehe, bukan juga dengan melaksanakan shalat dengan baik ketika ada yang melihat.

Tulisan ini tamparan buat saya ketika udah menyadari esensi solat tapi masih melakukan yang nggak baik diatas. Tapi itulah Allah, Maha Pengampun. Mudah mudahan kita ditunjukkan yang mana yang baik selalu yaah…. Dan dihindarkan dari godaan2 setan bowk so pasti ;)

Amiiin…

About ikhlas

Beberapa hari yang lalu sempat sharing bareng Rere, tentang beberapa hal that happened to me lately.
Yang memang aku rasa sangat2 diluar logika dan alam pikiran saya.
Bener2 nggak bisa mikir waktu itu, kenapa musibah ini terjadi pada saya?
kenapa orang bisa melakukannya dengan baik sedangkan saya enggak?
Why? Why me? dan Why why yang lain..


Pertanyaan2 inilah yang kemudian lead me to another spiritual journey.
Membuat saya mencari dan mencari.
Dan semakin aku nyadar..
Wah.. ini mungkin jalan menuju level yang belum pernah aku alami.


Bener aja..
Setelah perenungan beberapa hari mencari jawaban – jawaban..
Akhirnya sampe juga ke pertemuan dengan Rere waktu itu.
Semua permasalahan yang aku omelin ke dia, berakhir dengan satu jawaban,
“Ikhlas..”

Kadang kata ikhlas sounds so easy for us.


Selama ini yang kupandang ikhlas yang harus ditempa dan diterapkan setiap orang adalah ikhlas saat kita harus kehilangan. Entah itu kehilangan barang, benda, orang, kerabat, cinta, dan lain sebagainya.
Nggak pernah terpikirkan olehku kalau aku harus melewati another level of ikhlas,
sekarang aku harus ikhlas “menerima”.


Kedengeran gampang, kan?
Bukannya menerima atau mendapatkan sesuatu itu malah berkah buat kita?
Kalau ternyata berkahnya nggak sesuai harapan kan bisa dimanfaatkan untuk hal lain..
Banyak lah berkah lain yang kita dapet dari berkah yang nggak sesuai harapan tadi.

Misalnya nih, kita menang undian..
Waktu itu kita pengeeen banget dapet hadiah mobil.
Wuiih.. pasti kita udah mengharap2 cemas dan berdoa untuk mendapatkan tu mobil.

Tapi.. kalau kenyataanya lain? kalau ternyata kita cuma bisa dapet uang tunai?..
Hmm..pasti rasanya dongkol banget, tapi kemudian hari, ternyata uang tersebut malah berguna buat kita yang waktu itu sedang butuh uang cash..


Sesaat kemudian pasti kita bersyukur kan? ternyata pemberian Allah lebih indah dari yang kita inginkan sebelumnya.

Itulah ikhlas yang selama ini bercokol di pikiranku, bahkan ikhlas tentang nilai ujian, pekerjaan, dan lain sebagainya..
Nggak pernah terpikirkan olehku jenis ikhlas yang seperti sekarang ini.

Jadi masalah yang akhir2 ini datang padaku karena satu hal,
Aku memiliki pemikiran yang kubuat sendiri, berdasarkan pengalaman dan juga pendapat orang lain yang memperkuat pendapatku.
Demikian pemikiran dan pengalaman ini kupercayai selama bertahun-tahun dan lama kelamaan menjadi sebuah paradigma.
Nilai-nilai yang kubuat sendiri berdasarkan pengalaman dan paradigma ini lama2 jadi prinsip hidup buatku.

Kemarin sempat nemu kata-kata di buku ESQ:

Pengalaman – pengalaman hidup serta kejadian-kejadian yang dialami seseorang sangat berperan dalam menciptakan pemikiran dalam dirinya — Sebuah ‘paradigma’ yang melekat erat dalam pikiran. Seringkali paradigma itu dijadikan sebagai ‘kaca mata’ dan tolok ukur bagi dirinya, juga dalam menilai lingkungan di sekitarnya. Hal tersebut akan membatasi cakrawala berpikir seseorang, akibatnya seseorang akan melihat segala sesuatu dengan sangat subyektif. Ia akan melihat segalanya berdasarkan ‘frame’ berpikirnya sendiri, bukan secara riil atau obyektif

Alhasil apa yang terjadi?..
Ketika itu, anugrah yang dateng sungguh malah bertentangan dari prinsip hidupku yang sudah kupercaya bertahun2 di alam pikiranku.
Sekuat tenaga aku berontak, bersikeras bahwa ini bukan hidup yang aku inginkan. Aku harus merubah berkah yang sudah diberikan menjadi “berkah ala Me”. Jadi aku memaksakan berkah itu untuk menjadi sesempurna dan sesuai prinsipku.


Hadiah uang yang telah diberikan, kupaksakan untuk dijadikan sebuah mobil, meski untuk menutup sisanya, aku harus berhutang. Begitulah gampangnya.


Tapi apa hasilnya?
Semakin hatiku panas dan hariku tidak tenang.


Belum lagi pengorbanan perasaan orang yang terkena imbas ambisiku.
Barang yang kuinginkan kudapat, tapi bagaimana untuk menutup hutangnya?
Kalo barang mobil nggak bisa kudapat, pasti pikiranku masih was was dan nggak rela.

Jadi satu yang harus kupegang, ikhlas..
Kalau ingin hidupku tenang, semua ikhlaskan padaNya.


Allah memberikan kita berkah rizqi yang bermanfaat,
Mempertemukan kita dengan orang-orang yang menyenangkan,
Memberi berkah orang2 yang mampu menerima kekurangan2 kita dengan ikhlas.

Lalu kenapa kita masih belum bisa ikhlas menerima?
Tanyakan pada diri sendiri,
dan syukuri apa yang kamu punya..
Instead of moaning it.

Shalat Qabliyah dan Ba’diyah

Beberapa waktu yang lalu, setelah seorang temen pulang dari umrah, kami mencoba menerapkan shalat sunnat diantara shalat – shalat wajib yang dulu sering kali kami lupakan.

Alhamdulillah.. perjalanannya kemarin memberi pencerahan dalam hidup kami, dalam segi shalat, puasa, atau, berbagi, ataupun ibadah yang lain..
minimal bagi saya yang dahulu memang sering lalai atau mengulur waktu shalat jadi ada sedikit tertanam tekad dalam hati.

Masa sih kali ini ga shalat lagi? jangan ah..

begitu terus sampai mudah2an terbiasa :)

Oiya, mengenai arti shalat qabliyah.. yaitu shalat sunnah 2 rakaat sebelum shalat fardhu, sedangkan ba’diyah.. setelah shalat fardhu.

Mengingat kapan shalat fardhu itu ada qabliyahnya kapan harus ba’diyah awalnya susah buat saya..
padahal shalat yang cuma 5 waktu aja ngapalinnya kaya’ anak SD mau ujian gitu, arrghh.. jadi beban..

Akhirnya.. setelah dipandu-pandu sebelumnya..
Hmm..gini nih caraku mengingat:

  1. Shalat yang ada Qabliyah + Ba’diyah itu Shalat Dzuhur dan Isya,
  2. Shalat Subuh = Qabliyah..
    karena.. ada perdebatan mengenai shalat Fajar,
    bahwa tidak ada shalat sunnat 4 rakaat sebelum shalat Subuh..
    Jadi kan berarti sunnah di waktu subuh tu setelah shalat Fajar,
    means.. sebelum shalat subuh.. Ya thoh??
  3. Shalat Ashar = Qabliyah..
    karena.. setelah ashar menjelang magrib itu nggak boleh ada shalat lagi, nanti dikhawatirkan adanya anggapan menyembah matahari yang akan tenggelam..
  4. Shalat Magrib = Ba’diyah
    Karena waktu magrib itu sempit..jadi dikhawatirkan kalo shalat sunah qabliyah duluan, banyak nggak nututnya kalo mau shalat fardhu magrib :D
    jadi kan bener, shalat magrib dulu, kalau waktunya kira2 sempat.. baru shalat ba’diyah..
    Allah paling mengerti kita kan… Alhamdulillah..

Hmm.. ini cuma iseng2 berhadiah, salah satu cara saya mengingat, maklum pelupa :P
Semoga Bermanfaat.
Amin..